Rabu, 19 Desember 2018

Teh Hijau Versus Kanker Payudara(?)

oleh:

TEMPO.CO

Senin, 8 November 2010 00:18 WIB
Teh Hijau Versus Kanker Payudara(?)

Teh Hijau Versus Kanker Payudara(?)

TEMPO Interaktif, Jakarta -KANDUNGAN antioksidannya, membuat teh hijau sejak dulu dikenal bisa membantu melindungi peminumnya dari penyakit jantung dan kanker. Tapi rupanya tak semua mendapatkan efek yang sama. Paling tidak begitu dirilis British Medical Journal, 4 November 2010.

Penelitian yang dilakukan pada hampir 54 ribu wanita tengah baya di Jepang, selama lebih dari lima tahun, menyebutkan konsumsi teh hijau ternyata tak menurunkan risiko kanker payudara pada partisipan penelitian. Para peneliti pun tak melihat adanya perbedaan terhadap jenis teh hijau yang dipakai. (Sencha dan Bancha/Genmaicha).

Hasil peneilitian ini jelas istimewa. Tapi, hasil riset ini tidak dapat membuktikan bahwa teh hijau betul tidak memberikan efek terhadap kejadian risiko kanker payudara. Apalagi, penelitian ini hanya dilakukan terhadap para wanita Jepang, Siapa tau, teh hijau memberikan efek berbeda terhadap kelompok lain dengan latar belakang etnik berbeda juga kebiasaan diet yang lain.

Jadi tak perlu merasa gundah dengan penelitian ini. Jika ingin minum teh hijau, nikmati saja. Minum saja dengan alasan karena Anda menyukainya, bukan karena berharap bisa menurunkan risiko kanker payudara atau penyakit lainnya.

Alpukat, Ampuh Turunkan Kolesterol

Makanan rendah kalori akan lebih bermanfaat dengan menambahkan lemak tak jenuh tunggal, yang banyak terdapat dalam kaca-kacangan, biji-bijian, alpukat dan jenis minyak tertentu, seperti minyak zaitun dan minyak bunga matahari. Hal tersebut disarankan dalam hasil penelitian terbaru yang dirilis Canadian Medical Association Journal., awal November ini.

Penelitian itu, secara random dilakukan terhadap 17 pria dan tujuh perempuan postmenopause. Mereka dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, adalah mereka dengan kadar kolesterol darah ringan menuju sedang, dan kelompok lainnya mereka yang kadar kolesterolnya rendah.

Kedua kelompok tersebut, mengkonsumsi makanan vegetarian. Untuk kelompok dengan tinggi koleterol, para peneliti mengganti 13 persen kalori yang berasal dari karbohidrat dengan lemak tak jenuh tunggal (dari minyak bunga matahari dan minyak alpukat).

Di grup tinggi kolesterol itu, kadar koleterol baiknya (HDL), meningkat 12,5 persen sementara kolesterol jahat (LDL) menurun sampai 35 Persen. Asal tahu saja, mereka yang kadar HDLnya rendah dan LDLnya tinggi berisiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular. Begitu disebutkan Dr. David Jenkins dari Clinical Nutrition and Risk Factor Modification Center, St. Michael's Hospital, Toronto. Jenkins juga mengatakan bahwa penambahan diet untuk meningkatkan HDL bisa menjadi ide yang baik untuk melindungi dari penyakit kardiovaskular, tanpa meberikan efek lain dari penurunan kadar kolesterol tersebut.SDJ  


Selengkapnya
Grafis

Daftar Pemilih Tetap Tahap Kedua untuk Pilpres 2019

Komisi Pemilihan Umum atau KPU akhirnya mengumumkan perbaikan Daftar Pemilih Tetap tahap kedua pada 15 Desember 2018 untuk Pilpres 2019.