Selasa, 23 Oktober 2018

Bupati Muba Jadi Pembicara di European Palm Oil Conference

oleh:

TEMPO.CO

Jumat, 5 Oktober 2018 11:44 WIB
Bupati Muba Jadi Pembicara di European Palm Oil Conference

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin bersama Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita di sela sela acara EPOC Madrid- spanyol 2018

INFO BISNIS - Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dalam pengembangan komoditas kelapa sawit kian menjadi sorotan banyak pihak, baik di level nasional maupun internasional. Kali ini, keberhasilan yang dinakhodai oleh Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin itu, mendapatkan kepercayaan untuk menjadi narasumber kegiatan European Palm Oil Conference (EPOC) di Madrid. 

"Pengembangan komoditas strategis sawit di Indonesia akan dapat berkontribusi pada capaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs) untuk Indonesia, dan ini sudah dimulai di Kabupaten Muba," ujar Dodi di sela menjadi pembicara EPOC di Madrid. 

Dikatakan, beberapa target untuk mewujudkan pembangunan hijau berkelanjutan yang dapat didorong capaiannya melalui sawit lestari adalah ketahanan pangan, ketersediaan air bersih,  pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan, serta menurunkan resiko ekspansi lahan dan deforestasi.

Kata Dodi, untuk dapat mencapai target tersebut ada beberapa tantangan kunci. Salah satu yang paling dasar adalah kebutuhan data dan peta yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan, sesuai dengan kebijakan satu peta dan satu data. “Tanpa data, berbagai isu seperti legalitas, konflik lahan, sulitnya sertifikasi, dan kebakaran lahan akan sulit dicegah," ucapnya.

Pemkab Musi Banyuasin percaya bahwa untuk menjawab tantangan ini, kabupaten tidak bisa bekerja sendiri. Karenanya, Muba kerja sama dengan berbagai pihak dan mendirikan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) sebagai upaya kolaborasi dengan kabupaten lain.

Salah satu contoh nyata adalah, pencapaian Muba untuk mendapatkan dukungan dana replanting dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit untuk pekebun sawit khususnya swadaya. Proses ini berlangsung selama lebih dari dua tahun dan tidak akan bisa terjadi tanpa data spasial dan sosial ekonomi pekebun yang jelas. “Data yang berhasil dikumpulkan adalah hasil kerja sama multipihak di kabupaten," kata Dodi yang juga Ketua Umum LTKL. 

Dodi menambahkan, dengan fokus pada data dan peta, kabupaten bisa lebih fokus pada pengembangan program yang tepat untuk meningkatkan kapasitas pekebun dan mendorong intensifikasi. 

"Adanya peta dan data yang baik juga memungkinkan kabupaten untuk melakukan monitoring dan penegakan hukum di sektor sawit secara efektif, dengan  bekerja sama dengan provinsi dan nasional. Di sini terlihat jelas bahwa penurunan tingkat deforestasi akan sulit tercapai tanpa peta dan data yang baik," tuturnya.

Selain itu, Dodi percaya bahwa contoh baik ini akan dapat direplikasi oleh kabupaten lainnya, terutama melalui jaringan LTKL dan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) yang sudah dibentuk. 

"Dengan komitmen daerah, maka SDGs dan berbagai kebijakan perbaikan tata kelola Indonesia seperti ISPO, moratorium sawit dan satu peta serta komitmen swasta untuk lestari akan lebih mudah dicapai," katanya.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir bersama Bupati Musi Banyuasin untuk menjadi narasumber yakni Menteri Industri Malaysia, Madam Theresa Kok Suh Sim, Menteri perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita, dan Mantan Presiden Columbia, Alvaro.  Selain itu, Ketua EPOA, Frans Claassen, Sekretaris Jenderal Aliansi Minyak Sawit Eropa, Margot Logman, dan Profesor Universitas Cagliari, Departemen Ilmu Biomedis, Sebastiano Banni. (*)

 


Selengkapnya
Grafis

Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.