Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Dua Siswa Binus School Simprug Pamerkan Teknologi Pengolah Tempe di Austria

Kamis, 28 September 2023 15:45 WIB

Iklan

MEMO BISNIS – Dua siswa Binus School Simprug terlibat dalam proyek Portable Machine of Tempeh Making (mesin pengolah tempe). Teknologi ini dipamerkan langsung ke masyarakat Eropa di ajang Ars Electronica Festival 2023 di Gedung POSTCITY Linz, Kota Linz, Austria, pada 6-10 September 2023 lalu.

Bukan tanpa alasan mesin tempe menjadi pilihan proyek kali ini. Diketahui popularitas tempe melesat di kalangan masyarakat Eropa, khususnya vegetarian. Tempe yang merupakan makanan tradisional khas Indonesia diketahui mudah diolah menjadi berbagai macam makanan.

Harganya yang terjangkau serta rasanya yang mudah diterima oleh semua kalangan membuat tempe menjadi menu andalan Indonesia. Namun tidak hanyaitu, makanan yang berasal dari kacang kedelai ini ternyata juga dinobatkan sebagai salah satu makanan vegan terbaik di dunia.

Mengusung tema “Tempeh Universe: Revealing the Secret of Tempeh – Indonesian Food Heritage and Vegan Life”, booth Binus School Simprug menampilkan Portable Machine of Tempeh Making yang merupakan teknologi pengolah kedelai hingga menjadi tempe.

Portable Machine of Tempeh Making adalah proyek yang melibatkan dua siswa kelas 10 di Binus School Simprug, yaitu Kenneth William Santoso dan Davrell Mylka Jowkins. Kehadiran mereka di ajang internasional ini juga didampingi guru Binus School Simprug, Ms. Savita sebagai Research Mentor, serta Dr. Rinda Hedwig sebagai Research Interest Group Leader dan Marcel Saputra sebagai Research & Development Coordinator dari Computer Engineering Binus University, dan juga Chef Trias Septyoari Putranto.

Kenneth William Santoso dan Davrell Mylka Jowkins lalu memberikan penjelasan tentang bagaimana pengoperasian dari alat tersebut. Konsep di balik teknologi ini menurut Kenneth terhitung sederhana, yakni mengontrol semua proses pengolahan tempe, mulai dari tahap-tahap awal seperti mencuci kedelai, merebus, hingga mengupas kulit dari biji kedelai.

“Langkah pertama mesin adalah merendam kedelai selama 6 jam sambil mesin berosilasi maju mundur untuk memastikan terpisahnya kulit dari biji. Kedua, mesin akan membuat air kedelai mencapai suhu mendidih. Ketiga, mesin akan meningkatkan kecepatan putarannya untuk memastikan pemisahan sempurna antara kulit dan biji kedelai,” kata  Davrell.

Menurut dia, mesin ini juga akan menambahkan ragi sebagai bahan dasar pengolahan kedelai menjadi tempe. Temperatur dari mesin ini pun menyesuaikan dengan suhu ruangan yang juga dilengkapi dengan sirkulasi udara agar dapat berfermentasi.

“Hasil dari proses yang sudah dikendalikan ini adalah terciptanya masakan tempe secara utuh. Mesin ini menjalankan seluruh proses mulai dari kedelai hingga tempe, sehingga menawarkan kualitas yang konsisten kepada konsumen dengan lebih sedikit pekerjaan,” ujar Kenneth.

Rencananya Portable Machine of Tempeh Making akan dipasarkan di negara-negara non-Asia kecuali Jepang. Dengan tujuan mempromosikan makanan tradisional khas Indonesia kepada dunia.

Kehadiran Binus School Simprug dengan membawa karya Portable Machine of Tempeh Making menjadi bukti bahwa Binus School Education selalu memberikan dukungan penuh kepada siswanya yang ingin berkreasi dan menciptakan hal-hal baru, terutama dalam memberikan manfaat kepada masyarakat, selaras dengan visinya yaitu Fostering and Empowering the Society in Building and Service the Nation.

Kepala Sekolah Binus School Simprug, Mr. Isaac Koh mengatakan, setiap bakat dan minat dari siswa harus terus didukung agar bisa terus terasah, sehingga potensinya bisa berdampak untuk orang banyak. “Di sini kami percaya untuk terus mendorong siswa dalam menggali potensi dan bakatnya, dan kami juga mendukungnya melalui berbagai macam sumber yang dibutuhkan siswa untuk bisa mendapatkan hasil terbaik.”

Sebagai guru yang membimbing perjalanan Kenneth dan Davrell dalam proyek ini, Ms. Savita sangat bangga dengan kesempatan yang sudah diberikan pada Ars Electronica Festival 2023, terlebih lagi respon yang didapat juga sangat positif. “Selama mengikuti pameran di Austria, respon yang kami dapat sangat luar biasa, terlihat bahwa banyak orang di Eropa yang sangat tertarik dengan teknologi pengolah tempe ini, mereka juga tampak suka dengan makanan-makanan olahan yang berasal dari tempe.”

Ars Electronica Festival merupakan pameran yang menggabungkan beberapa ilmu yaitu sains, bisnis, kreativitas dan seni, serta kearifan lokal dari seluruh dunia. Dalam festival itu, turut hadir KBRI/PTRI yang memberikan dukungan kepada delegasi Binus School Simprug yang sudah membawa nama Indonesia melalui teknologi ciptaannya. (*)

Iklan

Kolaborasi Panasonic dengan Seniman Disabilitas & Maestro Seni Yogya

2 hari lalu

Kolaborasi Panasonic dengan Seniman Disabilitas & Maestro Seni Yogya

Eksistensi Kutus Kutus hingga Kini

2 hari lalu

Eksistensi Kutus Kutus hingga Kini

Persembahan Sasa untuk para pecinta otomotif di event Decemblar 2023

3 hari lalu

Persembahan Sasa untuk para pecinta otomotif di event Decemblar 2023

Panasonic Resmi Rilis AC VRF Systems MS3 Series di Indonesia

7 hari lalu

Panasonic Resmi Rilis AC VRF Systems MS3 Series di Indonesia

AMG Kukuhkan Diri Sebagai Perusahaan Media Berbasis Teknologi

7 hari lalu

AMG Kukuhkan Diri Sebagai Perusahaan Media Berbasis Teknologi

Brand Tas Lokal Daclen Perkenalkan Koleksi Terbaru

7 hari lalu

Brand Tas Lokal Daclen Perkenalkan Koleksi Terbaru

Allianz Syariah Tebar Kebaikan yang Menguatkan

9 hari lalu

Allianz Syariah Tebar Kebaikan yang Menguatkan

Multipolar Technology Tawarkan Tiga Solusi Layanan Digital

11 hari lalu

Multipolar Technology Tawarkan Tiga Solusi Layanan Digital

Odysee Education dan IGI Bersatu Hadapi Tantangan Kekurangan Guru

12 hari lalu

Odysee Education dan IGI Bersatu Hadapi Tantangan Kekurangan Guru

Roca Group Berhasil Meresmikan Terowongan Kiln Elektrik Pertama di Dunia

12 hari lalu

Roca Group Berhasil Meresmikan Terowongan Kiln Elektrik Pertama di Dunia